linkedin

LinkedIn, Buat Apa?

Saya punya LinkedIn sejak tahun 2014. Dulu saya buat akun pun karena di tahun segitu media sosial lagi booming dan saya ngebet buat akun dimanapun. Karena asal buat itu pula, akun LinkedIn saya nganggur lebih dari 2 tahun.

Trigger saya untuk aktif lagi pun karena dapat kerja, dan kok kayaknya keren kalo di-update. Di kerjaan itu juga saya menyadari kalo LinkedIn itu bagus buat networking saat kerja. Saat itu di feed saya liat banyak banget yang share ilmunya. Saya pun minder, merasa belum memiliki ilmu yang cukup buat sharing ilmu.

Sejak 2016 pula saya main LinkedIn seperlunya, liat feed kalo ada info bagus, tebar friend request, sesekali cari kerja kalo perlu. I never expect anything more. Tahun 2018, pertama kalinya saya mendapat tawaran kerjaan. Saya tolak, sih. But, it set me on fire. Saya pun mulai sharing ilmu di feed, makin memperluas koneksi dan makin percaya diri dengan profil LinkedIn saya.

Sampai sekarang pun saya makin sering sharing konten. Because of that as well, I’ve been offered 4 jobs in the last 2 month! Karena menurut saya HRD prefer cari langsung orang (dan cuma LinkedIn yang bisa cari orang). So, if you don’t have LinkedIn account yet, I suggest you to have one.

But, never expect anything. Tujuan saya punya LinkedIn pun lebih untuk personal branding dan mencari koneksi. (Saya juga berencana buat komunitas DM Jakarta dengan cari orang di LinkedIn) Dapat offering hanya bonus. So, you need to find your own trigger and get moving!

Mari berteman di LinkedIn.

Baca edisi lainnya: #31HariMenulis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *